Loka Labkesmas Tanah Bumbu Gelar Diseminasi Surveilans dan Forum Konsultasi Publik, Dorong Penguatan Kesehatan Berbasis Data

waktu baca 4 menit
Rabu, 3 Des 2025 21:05 15 Syahriadi

lugasnusantara.co.id, TANAH BUMBU – Loka Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Loka Labkesmas) Tanah Bumbu menggelar Diseminasi Hasil Surveilans dan Forum Konsultasi Publik dengan tema “Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat melalui Surveilans dan Konsultasi Publik yang Partisipatif.”

Kegiatan berlangsung di aula Loka Labkesmas Tanah Bumbu, Rabu (3/12/25), yang dihadiri peserta dari berbagai instansi lintas sektor, termasuk BBLKM Banjarbaru, Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan, Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar, Dinas Kesehatan Kotabaru, Dinas Kesehatan Tanah Bumbu, Bappeda Tanah Bumbu, Stikes Darul Azhar, hingga RSUD DHAAN.

Plt. Kepala Loka Labkesmas Tanah Bumbu, Liestiana Indriyati, M.Ling, menyampaikan bahwa surveilans tidak hanya sebatas pengumpulan data, tetapi juga bagaimana data diolah, dianalisis, dan digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan yang cepat, tepat, dan berbasis bukti.

“Loka Labkesmas Tanah Bumbu berkomitmen untuk melakukan perbaikan berkelanjutan dalam aspek teknis, koordinasi, hingga pelaporan agar data yang dihasilkan semakin akurat, valid, dan bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Liestiana.

Plt. Kepala Loka Labkesmas Tanah Bumbu, Liestiana Indriyati, M.Ling., saat menyampaikan laporan.

Paparan Hasil Surveilans 2025: Dari Filariasis hingga Kualitas Udara

Sejumlah materi dipaparkan dalam kegiatan ini, mulai dari data statistik kesehatan, peran lingkungan, hingga berbagai hasil survei unggulan tahun 2025.

1. Filariasis: Prevalensi Rendah, Risiko Tetap Ada

Tenaga Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku Ahli Pertama, Akhmad Wahyudin, SKM, mengapresiasi hasil Brugia Impact Survey filariasis di Kabupaten Kotabaru yang menunjukkan angka positif di bawah 1%.
Namun, ia menegaskan bahwa kasus positif yang masih ditemukan berpotensi memicu penularan setempat.

“Penyampaian Komunikasi Informasi Edukasi sangat diperlukan di desa sasaran dan sekitarnya,” jelasnya.

Tindak lanjut cepat pun dilakukan melalui survei vektor. Entomolog Kesehatan Ahli Muda, Budi Hairani, M.Si, mengungkapkan ditemukannya nyamuk genus Culex dan Anopheles di cluster lokasi survei yang berpotensi sebagai vektor filariasis jika tidak dikendalikan.

2. Temuan Nyamuk Anopheles sp, Waspada Potensi Malaria

Katimker Surveilans, Wulan Sari RG Sembiring, SKM., MKM, melaporkan temuan 96 ekor Anopheles sp di wilayah yang memiliki karakteristik mirip habitat Ring Ibu Kota Nusantara. Hal ini menjadi perhatian khusus mengingat nyamuk tersebut merupakan vektor malaria di berbagai daerah.

3. Kualitas Air Minum Isi Ulang di Kotabaru

Sanitarian Ahli Muda, Hamsyah, SKM, menyampaikan hasil survei DAMIU di Kabupaten Kotabaru, yang menunjukkan beberapa depot masih positif bakteri E. coli dan coliform.

Temuan ini menegaskan perlunya peningkatan higiene dan sanitasi serta pengawasan berkelanjutan oleh Dinas Kesehatan untuk memastikan air minum aman bagi masyarakat.

4. Surveilans Leptospirosis: Risiko Tinggi di Dua Desa

Epidemiolog Ahli Muda, Liestiana Indriyati, SKM, M.Ling, memaparkan hasil survei leptospirosis di empat kabupaten.
Desa Pulau Kerasian (Kotabaru) dan Desa Juku Eja (Tanah Bumbu) menunjukkan risiko penularan tinggi dari tikus ke manusia.

Peningkatan skrining, diagnosa dini, serta pengendalian tikus lintas sektor menjadi rekomendasi utama.

5. Keamanan Pangan Kantin Sekolah

Penanggung Jawab Survei, Wardiansyah Naim, menjelaskan bahwa sebagian besar sampel makanan jajanan kantin sekolah dan Program MBG di Tanah Bumbu telah memenuhi standar mikrobiologi.
Namun, risiko kontaminasi bisa terjadi pada penyimpanan dan pengolahan sehingga pengawasan dan pelatihan higiene sanitasi harus terus ditingkatkan.

6. Kepadatan Lalat di Sekolah

Aml Heriadi, S.KM, melaporkan hasil survei kepadatan lalat di 36 SD di Tanah Bumbu. Lokasi kantin sekolah tercatat sebagai area paling tinggi tingkat kepadatannya (11,1%).
Identifikasi spesies dilakukan untuk mengetahui potensi penyebaran penyakit berbasis vektor lalat.

7. Pemantauan Kualitas Udara: Masih Aman, Tetapi Tetap Rawan

Penanggung jawab survei lingkungan, Farhan Fadillah, menyampaikan hasil pemantauan TSP:

Batulicin: 43,29 µg/Nm³

Kersik Putih: 44,04 µg/Nm³

Angka tersebut masih di bawah baku mutu PP 22/2021. Namun, kasus ISPA yang tinggi membuat kedua wilayah tetap menjadi prioritas pemantauan rutin.

8. Survei Kecacingan pada Siswa SDN 2 Sepunggur

Ahli Kesehatan Masyarakat, Deni Fakhrizal, SKM, M.Kes, menemukan angka kecacingan rendah (2,4%), tetapi faktor risiko seperti kebersihan kuku buruk dan 13% anak dengan status kurus perlu perhatian.

Ia merekomendasikan pemberian obat cacing massal dan penguatan edukasi PHBS.

Forum Konsultasi Publik sebagai Wadah Sinergi

Melalui forum ini, peserta dari berbagai sektor saling berdiskusi dan merumuskan langkah tindak lanjut untuk meningkatkan efektivitas surveilans kesehatan di Tanah Bumbu dan daerah sekitar.

Liestiana berharap forum ini menjadi ruang strategis untuk memperkuat jejaring, meningkatkan kapasitas, dan mendorong pelayanan kesehatan berbasis bukti.

Kegiatan ditutup dengan komitmen bersama untuk meningkatkan kualitas surveilans yang lebih akurat, responsif, dan berorientasi pada kebutuhan kesehatan masyarakat.

Kegiatan Diseminasi dan Forum Konsultasi Publik di Loka Labkesmas Tanah Bumbu.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA