
lugasnusantara.co.id, TANAH BUMBU – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Batulicin terus menggiatkan pembinaan kepribadian bagi Warga Binaan melalui kegiatan keagamaan. Salah satunya Salat Dhuha berjamaah yang rutin dilaksanakan di Masjid At-Taubah, Selasa (1/9/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pembiasaan ibadah untuk memperkuat keimanan sekaligus membentuk kedisiplinan Warga Binaan selama menjalani masa pembinaan.
Pelaksanaan Salat Dhuha diatur oleh Subseksi Pembinaan melalui jadwal bergiliran berdasarkan kamar hunian. Sistem tersebut diterapkan agar seluruh Warga Binaan memperoleh kesempatan yang sama untuk mengikuti ibadah secara tertib dan berkelanjutan.
Salat Dhuha berjamaah dilaksanakan setiap Senin hingga Jumat pada pagi hari di Masjid At-Taubah. Warga Binaan yang mendapat giliran diarahkan mengikuti kegiatan sebagai bagian dari program pembinaan kepribadian.
Usai Salat Dhuha, kegiatan dilanjutkan dengan tausiah yang disampaikan oleh santri dari kalangan Warga Binaan. Materi tausiah disampaikan berdasarkan Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad SAW, dengan tema tentang keimanan kepada takdir Allah.
Dalam tausiah tersebut, Warga Binaan diajak memahami pentingnya menerima ketetapan Allah dengan iman dan keikhlasan, namun tetap berusaha memperbaiki diri dan menjalani kehidupan ke arah yang lebih baik.
Kepala Subseksi Pembinaan Lapas Batulicin, Harry Indrawan, mengatakan penjadwalan secara bergiliran dilakukan agar Warga Binaan dari setiap kamar dapat mengikuti kegiatan ibadah secara teratur dan merata.
“Kami menyusun jadwal secara bergiliran agar Warga Binaan dari setiap kamar memiliki kesempatan yang sama untuk mengikuti Salat Dhuha berjamaah. Kegiatan ini kami jadikan bagian dari pembinaan kepribadian sehingga ibadah tidak hanya dilakukan sesekali, tetapi menjadi kebiasaan yang terus dibangun selama menjalani masa pembinaan,” ujar Harry.
Salah seorang Warga Binaan berinisial F mengaku merasakan manfaat dari rutinitas Salat Dhuha yang dilaksanakan secara terjadwal.
Menurutnya, kegiatan tersebut membuat dirinya lebih terbiasa mengatur waktu, beribadah, dan menjaga kebiasaan positif selama menjalani masa pembinaan.
“Dengan adanya jadwal, saya menjadi lebih terbiasa menyempatkan waktu untuk Salat Dhuha. Tausiah yang disampaikan setelahnya juga menjadi pengingat untuk lebih taat kepada Allah dan terus berusaha memperbaiki diri,” ungkap F.
Sementara itu, Kepala Lapas Batulicin, Thoha Yahya Umar Sidiq, menegaskan pembinaan kepribadian melalui kegiatan keagamaan menjadi salah satu bagian penting dalam proses perubahan Warga Binaan.
Ia mendukung pelaksanaan Salat Dhuha dan tausiah terus dilakukan secara konsisten sebagai sarana membangun keimanan, kedisiplinan, dan karakter positif.
“Kami ingin pembinaan keagamaan menjadi bagian dari keseharian Warga Binaan, bukan sekadar kegiatan yang bersifat seremonial. Melalui Salat Dhuha dan tausiah yang dilaksanakan secara terjadwal, kami berharap tumbuh kesadaran untuk taat kepada Allah, memperkuat karakter, dan menjadikan nilai-nilai agama sebagai bekal dalam menjalani kehidupan setelah kembali ke masyarakat,” tegas Thoha.
Melalui pembiasaan ibadah dan penguatan pemahaman agama, Lapas Batulicin berharap Warga Binaan mampu membangun kebiasaan positif yang dapat terus diterapkan setelah mereka kembali ke tengah masyarakat.