
lugasnusantara.co.id, TANAH BUMBU – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Batulicin kembali memanen 17 kilogram tauge sebagai hasil pembinaan kemandirian Warga Binaan di Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) Lapas Batulicin, Senin (14/09/2026). Hasil tersebut menunjukkan konsistensi produksi tauge yang terus bergerak dengan siklus panen setiap tiga hari.
Produksi tauge dilakukan secara bertahap dengan rata-rata 5 kilogram bahan yang diolah dalam setiap proses produksi. Tahapannya dimulai dari perendaman hingga proses pemeliharaan sebelum tauge siap dipanen dalam waktu sekitar tiga hari.
Lapas Batulicin memberikan kepercayaan kepada dua orang Warga Binaan untuk terlibat langsung dalam seluruh proses produksi. Keterlibatan tersebut dimulai dari tahap awal pengolahan hingga panen sehingga memberikan pengalaman nyata dalam mengelola kegiatan produksi secara rutin dan bertanggung jawab.
Seluruh hasil panen tauge kemudian didistribusikan ke Dapur Sehat Lapas Batulicin untuk memenuhi kebutuhan konsumsi makanan Warga Binaan. Pemanfaatan hasil produksi tersebut membuat kegiatan pembinaan kemandirian tidak hanya menghasilkan keterampilan, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi kebutuhan di dalam Lapas.
Kasubsi Pembinaan Lapas Batulicin, Harry Indrawan, menjelaskan bahwa produksi tauge menjadi salah satu kegiatan pembinaan kemandirian yang dijalankan secara konsisten. Menurutnya, siklus produksi yang singkat memberikan kesempatan kepada Warga Binaan untuk belajar mengelola kegiatan produktif secara berulang dan bertanggung jawab.
“Produksi tauge kami jalankan secara rutin karena memiliki proses yang sederhana dengan masa panen yang relatif singkat. Melalui kegiatan ini, Warga Binaan belajar mengelola proses produksi dari awal hingga panen sekaligus membangun kedisiplinan dan tanggung jawab dalam menjalankan pekerjaan,” ujar Harry Indrawan.
Salah seorang Warga Binaan berinisial R mengaku mendapatkan banyak pengalaman baru selama terlibat dalam produksi tauge. Kegiatan tersebut menurutnya memberikan tambahan pengetahuan yang dapat dimanfaatkan setelah menyelesaikan masa pembinaan.
“Saya mendapatkan banyak pengalaman baru selama mengikuti proses produksi tauge. Ilmu yang saya dapat menjadi tambahan bekal bagi saya dan mudah-mudahan bisa diterapkan ketika sudah selesai menjalani masa pembinaan,” ungkap R.
Kepala Lapas Batulicin, Thoha Yahya Umar Sidiq, menyampaikan dukungan terhadap keberlanjutan produksi tauge sebagai bagian dari pembinaan kemandirian. Ia berharap kegiatan tersebut terus dikembangkan sehingga semakin banyak Warga Binaan mendapatkan kesempatan untuk belajar melalui kegiatan yang menghasilkan.
“Kami terus mendorong dan mendukung kegiatan pembinaan kemandirian yang memberikan pengalaman nyata kepada Warga Binaan. Produksi tauge yang dilakukan secara konsisten menjadi salah satu kegiatan produktif yang dapat melatih keterampilan, kedisiplinan, dan tanggung jawab sebagai bekal bagi mereka setelah kembali ke masyarakat,” ujar Thoha Yahya Umar Sidiq.
Produksi 17 kilogram tauge kembali menunjukkan bahwa pembinaan kemandirian di Lapas Batulicin terus bergerak melalui kegiatan yang memiliki proses dan hasil nyata. Konsistensi panen setiap tiga hari sekaligus pemanfaatan hasilnya untuk kebutuhan Dapur Sehat menjadi bagian dari keberlanjutan pembinaan yang memberi pengalaman dan manfaat bagi Warga Binaan.