
lugasnusantara.co.id, TANAH BUMBU – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Batulicin memfasilitasi ibadah daring bagi Warga Binaan beragama Nasrani, Senin (17/08/2026), bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Kegiatan yang berlangsung di Ruang Pembinaan tersebut menjadi bagian dari pembinaan kerohanian sekaligus momentum bagi Warga Binaan untuk memaknai kemerdekaan melalui penguatan iman.
Ibadah mengangkat tema “Syukur Kemerdekaan dalam Iman” yang mengajak Warga Binaan mensyukuri kemerdekaan sebagai anugerah sekaligus kesempatan untuk terus memperbaiki kehidupan. Pesan tersebut menekankan pentingnya menjaga iman, membangun kasih, serta menggunakan masa pembinaan sebagai ruang untuk bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.
Berada dalam suasana peringatan kemerdekaan, ibadah menjadi momentum refleksi bagi Warga Binaan untuk melihat kembali perjalanan hidup dengan penuh kesadaran. Rasa syukur diwujudkan melalui ketekunan beribadah, kesediaan memperbaiki kesalahan, serta tekad menjalani pembinaan dengan sikap yang lebih bertanggung jawab.
Kegiatan yang terselenggara melalui kerja sama Yayasan Pendidikan Warga Binaan Pemasyarakatan (YPWBP) Cahaya Kasih dan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan tersebut berlangsung tertib dan khusyuk. Lapas Batulicin terus memberikan ruang bagi Warga Binaan untuk menjalankan ibadah sesuai agama dan kepercayaannya sebagai bagian dari pemenuhan hak serta pembinaan kepribadian.
Kepala Subseksi Pembinaan Lapas Batulicin, Harry Indrawan, menyampaikan bahwa momentum kemerdekaan dapat menjadi pengingat bagi Warga Binaan untuk mensyukuri kesempatan memperbaiki diri. Menurutnya, penguatan iman dapat menjadi fondasi dalam menjalani proses pembinaan dengan penuh kesadaran.
“Kemerdekaan patut kita syukuri dengan mengisi setiap kesempatan melalui kebaikan dan perubahan diri. Kami berharap penguatan iman melalui ibadah ini mampu menjadi pegangan bagi Warga Binaan untuk menjalani pembinaan dengan lebih baik, bertanggung jawab, dan penuh harapan,” ujar Harry Indrawan.
Salah seorang Warga Binaan berinisial M mengaku mendapatkan makna tersendiri dari ibadah yang dilaksanakan bertepatan dengan Hari Kemerdekaan RI. Baginya, rasa syukur atas kemerdekaan menjadi dorongan untuk terus memperbaiki diri selama menjalani masa pembinaan.
“Hari ini saya belajar bahwa rasa syukur tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus diwujudkan melalui perubahan dalam kehidupan. Saya ingin menggunakan masa pembinaan ini untuk memperkuat iman, memperbaiki diri, dan mempersiapkan kehidupan yang lebih baik ketika kembali ke masyarakat,” ungkap M.
Kepala Lapas Batulicin, Thoha Yahya Umar Sidiq, menegaskan bahwa pembinaan kerohanian merupakan bagian penting dalam membangun karakter dan kesadaran diri Warga Binaan. Ia berharap momentum kemerdekaan dapat menumbuhkan rasa syukur sekaligus semangat untuk menjalani proses pembinaan secara sungguh-sungguh.
“Kemerdekaan menjadi momentum untuk bersyukur sekaligus merefleksikan bagaimana kita mengisi kehidupan dengan hal-hal yang bermakna. Kami ingin Warga Binaan menjadikan penguatan iman sebagai kekuatan untuk berubah, membangun harapan, dan mempersiapkan diri kembali ke masyarakat sebagai pribadi yang lebih baik,” tutur Thoha Yahya Umar Sidiq.
Ibadah daring tersebut menjadi bagian dari pembinaan kepribadian yang terus dilaksanakan Lapas Batulicin dengan memberikan ruang bagi Warga Binaan untuk memperkuat kehidupan spiritualnya. Melalui semangat syukur kemerdekaan dalam iman, Warga Binaan diharapkan mampu menjadikan masa pembinaan sebagai kesempatan untuk bertumbuh, memperbaiki diri, dan menata masa depan dengan penuh harapan.